Cerpen
SABAR MEMBAWA BERKAH
Aku Anya Pandela Wijaya. Aku seorang manusia biasa.
Manusia yang kehidupannya sederhana. Aku sekarang kelas 2 SMA. Kehidupanku
tidak ada yang spesial. Tidak bermewah-mewahan dan juga tidak glamour.
Dentingan jam
cepat berlalu, yang berawal disisi kanan sekarang telah berubah menjadi disisi
kiri. Begitu pula hari yang kian cepat berganti. Waktu-waktu yang kulewati
terasa hampa, ringan, dan tanpa beban.Dalam benakku ku berteriak “ Aku ingin
seperti mereka!”. Besar rasa ingin yang kumiliki untuk bisa sama dengan orang
lain, tapi kutahan perasaanku untuk bisa seperti mereka. Ku pendam perasaan
itu, entah sampai kapan aku bisa menahannya.
Pagi hari yang terlihat gelap karena sang surya
belum menampakkan dirinya disaat itu pula aku sudah terbangun dari tidur
nyenyakku. Aku melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim, yaitu melakukan
sholat. Setelah selesai aku merapikan tempat tidur dan melaksanakan kegiatan
yang lainnya. Menyapu, mengepel, dan mencuci, itulah kegiatan keseharianku
disaat musim liburan kemarin. Terlepas dari itu, tidak ada yang spesial dari
liburanku. Terkadang aku membantu ibuku mengantar makanan ke sawah untuk
kakekku atau keseharianku aku habiskan
untuk menjaga warung ibuku.
Sering sekali aku melihat postingan-postingan
teman-temanku, mereka sedang bersuka ria berwisata dari satu kota ke kota yang
lain. Aku tersenyum melihatnya, aku juga ingin seperti mereka. Tapi takdir
berkata lain, aku melihat keadaan orangtuaku saat itu. Sangat tidak
memungkinkan untuk meminta ini dan itu. Sebagai seorang anak harus tahu diri
dan tidak memaksakan jika memang keadaan sangat tidak memungkinkan. “ Lagi pula
gak ada yang salah kan kalo liburan dirumah aja” batinku. Kebetulan sekali saat
aku sedang dalam masa liburan, kakekku selalu panen. Entah itu bulan Juli
maupun Desember. Jadi, aku mempunyai kegiatan lain selain berdiam diri di
rumah.
Hari demi hari terasa begitu lambat bagiku. Menunggu
petang datang pun seperti menunggu bulan purnama. Perasaan jenuh menyerangku.
Entah sampai kapan aku berfikir bisa menahan perasaan itu. Aku berfikir untuk
bertanya sesuatu kepada ibuku. Pikiran itu sangat menggangguku. Akhirnya aku
memaksakan diri untuk bertanya. “Bu, kapan kita jalan-jalan ?” Ibuku menoleh “Kapan – kapan saja ya. Jangan sekarang.” Ucapnya
dengan tatapan lembut. Setelah mendengar itu, aku hanya bisa mengangguk dan
terdiam.
Hari demi hari aku lewati dengan aktivitas yang sama
dengan hari – hari sebelumnya. Tak ada yang berubah. Perasaan marah berkecamuk
dalam hati ku. “Kenapa aku tidak bisa seperti orang lain?”. Mungkin saking
kesalnya aku, aku enggan berbicara dengan siapapun aku marah. Aku menyadari
jika perbuatanku ini salah. Ibuku bisa saja sedih karena melihat tingkah
anaknya yang seperti ini. Tapi aku bisa apa, aku juga butuh refresing. Entah
bagaimana bisa seorang ibu mengerti tentang perasaan anakanya. Mungkin itu yang
dinamakan ‘ikatan batin’ antara ibu dan anakanya. “Sabar Anya, dunia pasti
berputar. Ada waktunya untuk kita berubah. Coba jalani ini dengan ikhlas dulu,
siapa tahu esok hari akan berubah. Allah gak akan pilih kasih sama makhluk yang
telah diciptakan-Nya” ucap ibuku saat melihat aku terdiam sejak pagi.
Setelah itu aku menyadari bahwa aku terlalu egois
dan terlalu memaksakan kehendak. Keesokan harinya aku memulai hari dengan
senyuman. Tak ada keinginan untuk bertanya yang macam – macam kepada
orangtuaku, karena aku takut mereka akan bersedih. “Rezeki tidak akan kemana”
itulah yang sering aku dengar dari orang lain, dan esok lusanya aku beserta
keluarga pergi ke Bandung untuk berlibur. Ternyata aku baru paham bahwasannya
setiap oarang yang bersabar pasti akan mendapat balasan yang setimpal. Entah
itu datang dengan cepat maupun datang terlambat. Dari kejadian itu aku mengambil hikmah yang terjadi, bahawa aku
harus lebih belajar untuk bersabar dan paham maksud dari kasih sayang.
Harus sabar okeh, siap;)
BalasHapusAku akan selalu sabarrr:)) hahaha
BalasHapusSiapp
BalasHapusSugoii, kesabaran adalah kuncinya
BalasHapusKesabaran itu berarti
BalasHapus