Novelku Part 1


REASON

            Dentingan bel itu berbunyi nyaring ditelingaku. Aku melihat seseorang  datang memakai jaket tebal. Aku mengenalnya, tapi aku malas untuk menyapanya. Bukan karena aku sombong, tapi aku kecewa padanya. Aku telah memberikan kepercayaan penuh kepadanya, tapi apa yang telah dia lakukan kepadaku. Ah mengingatnya saja sudah membuatku ingin marah. Aku mengabaikannya saat dia memasuki cafe yang aku tempati. Dia melihatku, tapi dia pun enggan menyapaku. Ah syukurlah, akupun malas harus terlibat pembicaraan dengan dia.
            Aku melanjutkan membaca artikel yang sempat tertunda karena aku memperhatikan siapa yang datang dan aku  sedang menunggu seorang temanku yang belum datang untuk kerja kelompok. Aku kuliah dijururan Komunikasi di suatu Universitas Negeri terkenal di kotaku. Aku mahasiswa semester 3, dan ya aku cukup jenius.
            “Hey Clara, aduh maaf banget nih aku telat,”  kata Kayla datang dengan senyuman manisnya.
           “Dasar ya orang Indonesia itu identik banget sama yang namanya telat, ngaret. Ini udah jam berapa coba Kay, aku tuh udah nungguin dari tadi, sejak 1 jam yang lalu,” ujarku pura-pura merajuk.
            “Uhhh iya iya, maafkan aku ya. Tadi aku punya urusan yang mendadak sekali dan gak bisa aku tinggalkan. Maaf kan aku ya Clara hmmm?” kata Kayla bertingkah sok imut didepan ku.
            “Uh iya iya,,, memangnya ada urusan apa ? Kok katamu tidak bisa ditinggalkan ?” tanyaku penasaran.
            “Biasalah, aku bertengkar dengan Ricky, hehehe,” Kayla terkekeh.
            “Kau ini, masih saja bertingkah seperti anak kecil. Cobalah berfikir dewasa, agar tidak selalu bertengkar dengan kekasihmu itu. Aku bosan mendengar kamu berkeluh kesah tentang Ricky.” Ucapku tegas.
            “Oh ayolah Clara, kau kan sahabatku yang paling baik, kau yang paling mengerti aku. Kau itu adik rasa kaka bagiku hehehe,” Kayla menjawabnya tidak serius, dia hanya menganggap omonganku candaan semata. Tapi ya sudahlah, lagipula Kayla sudah banyak membantuku.
            “Ok ok kita lupakan tentang Ricky, ayo kita mulai kerja kelompoknya, ini kan harus dikumpulkan minggu depan,” ujarku.
            “Siap laksanakan,” ujar Kayla.
            Kayla adalah sahabat terbaiku. Dia berparas cantik dan anggun. Dia adalah anak tunggal dari seorang pengusaha terkenal, meskipun dia anak tunggal dan dari keluarga kaya, dia baik hati dan tidak sombong. Buktinya dia mau berteman denganku. Dia banyak membantuku dalam urusan ekonomi, karena aku merupakan seorang yatim piatu. Kedua orang tuaku meninggal saat usiaku 13 tahun. Sejak saat itu aku diasuh oleh pamanku. Tapi setelah aku lulus SMA aku memutuskan untuk kuliah di kota yang aku tinggali sekarang. Pamanku membiarkanku pergi karena pamanku merasa sudah tidak sanggup untuk membiayaiku. Aku mencoba mendaftarkan diriku program beasiswa, dan ternyata aku mendapatkannya.
  Aku dan Clara bertemu saat pelaksanaan OSPEK. Saat itu kami menjadi teman satu kelompok. Aku lupa tidak membawa persyaratan yang ditentukan karena terburu-buru, dan Kayla membantuku untuk itu. Kami melewati banyak hukuman bersama–sama. Kami tertawa terbahak – bahak karena hukuman yang konyol. Karena sifat Kayla yang periang dan jail, aku pun mulai melupakan kesedihanku dan memulai hidup baruku.

***

Pagi yang cerah menurutku. Aku tersenyum menyambut semburat sinar mentari. Aku bersyukur kepada Tuhan, karena dia masih memberiku kesempatan hidup. Hari ini aku tidak mempunyai jadwal kuliah, tapi aku harus melaksanakan rutinitasku untuk menyambung hidup. Ya ‘Bekerja’. Aku bekerja di Restoran. Restoran itu milik ibu kost yang aku tinggali. Dia menganggapku sebagai putrinya sendiri, karena dia tidak mempunyai anak perempuan. Bu Rani adalah nama ibu kost ku. Dia mempunyai 2 anak pria. Bu Rani sering bercerita kepadaku. Aku dan dia benar-benar dekat. Bahkan ada yang mengira bahwa aku adalah anaknya bu Rani, dan bu Rani menyukainya. Akupun senaang karena bu Rani memperlakukanku seperti anaknya. Aku seperti  merasakan kehadiran seorang ibu didalam hidupku. Aku merasa mendapatkan kasih sayang dari orang tua kandung yang selama ini tidak kudapatkan.
Aku bekerja di restoran milik bu Rani, restorannya cukup terkenal dikalangan anak muda maupun orang dewasa. Bu Rani sudah menyesuaikan jadwal bekerjaku dengan jadwal kuliahku. Ah, memang bu Rani yang terdebest deh. Awalnya aku enggan diperlakukan seperti ini oleh bu Rani, tapi bu Rani tetap memaksakan kehendaknya. Pernah sekali aku tolak adanya penyesuaian jadwal bekerjaku, tapi bu Rani malah mengancamku untuk mengratiskan uang kost. Dan itu gila menurutku. Akhirnya aku menuruti apa maunya ibu kost itu.
Aku melihat beberapa karyawan yang sudah datang. Mereka semua sudah menjadi teman bagiku. Mereka mengajari aku dari nol sampai aku akhirnya bisa. Terutama kak Boby, dia yang paling antusias bekerja. Kak Boby selalu ceria, dan selalu membuat aku dan karyawan yang lainnya tertawa. Meski begitu, dia tegas terhadap pekerjaan. Dia akan mengomeli kita jika ada yang mebuat kesalahan. Tapi aku dan karyawan yang lain memaklumi kemarahan kan Boby karena memang kita yang salah. Dibalik itu semua, pokoknya kak Boby yang terbaik.
“Hai nona Clara, selamat pagi,” ujar kak Boby.
“Selamat pagi juga bawel, sudah kukatakan jangan memanggilku ‘nona’ lagi kak,” kataku pura-pura cemberut.
“Dan sudah kukatakn jangan memanggilku ‘bawel’,” ledek kak Boby sambil menjulurkan lidahnya.
Akhirnya pun terjadi aksi kejar-kejaran dipagi hari. Karyawan yang lain melihatnya sambil tertawa. Mereka sudah biasa melihat aksi konyol ini. Akupun terus mengejar kak Boby, tapi dia selalu bisa menghindar. Aku lelah.
“Sudah. Sudah. Kau akan kubiarkan menang kali ini kak,” ucapku ngos-ngosan.
“Memang siapa bilang kau pernah menang Clara?” ujarnya.
“KAU,, terserah kau sajalah, aku capek,” kataku lelah. “Minggir kau!” ujarku sewot.
Jam makan siang tiba. Dan itu adalah waktu dimana restoran sedang ramai-ramainya. Semua karyawan wara-wiri bekerja. Bolak-balik kesana kemari mengantar pesanan. Begitupun aku. Aku mengantar pesanan kepada pelanggan pelanggan itu. Capek memang, tapi itu semua menyenangkan. Setelah para pelanggan pergi, aku dan juga yang lainnya duduk lesu akibat kecapean. Kami saling tatap dan akhirnya tertawa. Tak ada alasan untuk tertawa, tapi kami melakukannya. Bu Rani pun ikut tertawa. Dia memberikan dua jempolnya kepada kami. Dia sangat bangga kepada kami karena memberikan pelayanaan terbaik untuk pelanggan. Maka tak jarang pula bu Rani mengajak kami semua jalan-jalan dihari tertentu.
Ting....
Suara bel itu mengalihkan perhatian kita semua kepada orang yang datang. Ya dan ternyata orang itu adalah Kayla. Kayla datang dengan membawa dua buah jinjingan besar.
“Hai semuanya,, Hai juga tante Rani,” kata Kayla semangat.
“Hai juga Kayla,” kata mereka kompak. Memang, mereka sudah tahu bahwa Kayla adalah sahabatku dan sering berkunjung ke restoran ini.
“Widihh bawa apa tuh Kay ?” celetuk kak Boby.
“Ini aku bawakan oleh-oleh, ibuku baru saja pulang dari Swedia dan membawa oleh-oleh untuk kalian,” ucapnya.
“Wah, ibumu baik sekali Kay, sampai ingat kepada kami,” kata bu Rani.
“Hehehe,, ini untuk bu Rani diberikan secara terpisah. Khusus,” Kayla memberikan kantong yang berbeda.
“Wahh, terimakasih banyak ya,” ujar bu Rani.
“Iya sama-sama bu, ini untuk kalian dibagi-bagi saja ya,” kata Kayla.
Bingkisan itupun diterima oleh kak Boby. Pastinya akan dibagikan sama rata agar tidak terjadi keributan sesama karyawan.
“Bu, bisa engga aku bawa Clara keluar ? Bukankah pekerjaannya telah selesai ?” kata Kayla memohon. Kayla tahu, bahwa aku sangat disayang oleh bu Rani, sehingga Kayla memanfaatkan hal itu untuk kepentingan dirinya. Terlihat jahat memang, tapi ya begitulah Kayla.
“Kau ini ada maunya ya,,, yasudah silahkan bawa Clara. Tapi awas ya, jangan pulang terlalu malam. Aku mengawasimu Kayla,” ujar bu Rani tersenyum.
“Siap bu,” hormat Kayla.
“Yasudah bu, Clara pamit ya. Teman-teman aku duluan ya,” kataku.

***
Didalam mobil Kayla terlihat sangat senang. Aku menjadi heran, mengapa Kayla sesenang ini. Dia bernyanyi ria mengikuti alunan musik yang diputar. Tersenyum senyum seperti orang gila. Aku bertanya pun dia tidak menjawabnya. Dia hanya ‘Tersenyum’. Aku kesal. Dia membawaku tanpa alasan yang jelas. Aku tidak tahu mau dibawa kemana olehnya. Tapi aku hafal jalan ini. Ini jalan menuju kerumahnya. Untuk apa dia membawaku pergi kerumahnya. Ah sudahlah, aku akan tahu sendiri nanti.
Mobil Kayla memasuki garasi, kami pun turun dan langsung masuk kedalam rumahnya. Aku bertemu orang tuanya yang tumben sekali berada dirumah pada jam seperti ini. Aku menyapa kedua orang tua Kayla, dan langsung pergi ke kamar Kayla, karena Kayla sudah meneriakiku dari tadi.
“Kay, bisa tidak kau tidak teriak-teriak didalam rumahmu ? Ada orang tuamu dibawah. Mungkin mereka ingin beristirahat. Kalau begini terus, mana bisa mereka beristirahat,” ujarku kesal.
“Santai aja kali Clar, mereka tuh bukan mau istirahat. Mereka itu baru bangun tau,” kata Kayla menanggapiku santai.
“Ohh begitu toh,” ujarku tak tahu malu.
“Makanya, kalau gak tahu, tanya dulu,” kata Kayla tersenyum.
“Iya iya maaf.. Oh ya, coba jelaskan mengapa aku dibawa kerumahmu dan kenapa kamu tadi senyum-senyum sendiri ? Jangan jangan kesambet setan lagi,” kataku sambil berjalan mundur menjauhi Kayla.
“Enak aja dibilang kesambet, aku waras kok. Nih Kayla masih sehat dan waras, kagak kesambet apa-apa,” ujarnya kesal sambil berkacak pinggang.
“Ya terus kenapa dong, kok tadi senyum-senyum terus?” ujarku penasaran.
“Berhubung aku orangnya baik dan tidak sombong. Melihat adikku yang sudah lama menjomblo alias tidak memiliki kekasih, dengan niat baikku aku akan mengenalkanmu pada seorang pria yang baik pula, dan aku yakin kamu pasti akan menyukainya lahir bathin, aku akan jodohin kalian tanpa ada penolakan.” ujar Kayla dengan satu kali napas.
“Hahhhhhhh, di jodohin ? Gak mau ah,” kataku kaget.
“Iya, kamu mau kan Clar ? ayolah, kamu sudah lama jombo” katanya.
“Tapi......” kataku.



Nantikan kelanjutannya ya :)

Komentar

Posting Komentar