Novelku Part 2


“Tapi......” kataku.
“Ah sudahlah. Kataku tak ada penolakan ya berarti tidak ada penolakan Clara,” Kata Kayla memaksa.
“Tapi Kay, aku gak mau. Sudahlah pokoknya aku gak mau. Titik ! Gak ada penolakan,” kataku marah dan sama keras kepalanya dengan Kayla.
“Puffttt...Hahahahahahahahahaaha,” Kayla tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
“Apa sih ? Gak ada yang lucu tau. Kayla berhenti tertawa !” kataku heran bercampur marah.
“Clara Clara,, siapa juga sih yang mau jodoh-jodohin kamu. Gak ada kerjaan banget aku. Aku tuh Cuma bercanda tau. Sebenarnya aku mau minta kamu temenin aku pergi ke tempat tongkrongannya Ricky,” ujar Kayla.
“Minta tolong kok kayak gini caranya sih. Bikin orang lain jantungan aja tau gak ? Sebel,” kataku masih agak marah.
“Maaf deh maaf. Clara kan baik hati dan tidak sombong. Kan Clara sendiri yang bilang, bahwa sesama manusia itu harus saling memaafkan lohh,” kata Kayla lembut.
“Iya iya. Karena aku baik hati dan tidak sombong, jadi hari ini kau aku maafkan. Tapi jangan diulang lagi ya,” kataku.
“Iya Clar, gr banget sih,” kata Kayla sambil menjulurkan lidah, mengejekku.
Aku membiarkan dia mengejekku sepuasnya. Karena aku tahu, jika aku menembalinya maka tidak akan selesai – selesai. Aku memperhatikan Kayla yang sibuk memilih baju yang akan dia kenakan. Padahal hanya akan bertemu dengan kekasihnya, tapi memilih baju saja lama sekali. Pasangan ini memang aneh. Sering bertengkar karena kesalah pahaman kecil, tapi akhirnya baik lagi seperti kemarin tidak terjadi apa-apa. Tapi aku salut dengan mereka. Mereka menyelesaikan masalah bersama walaupun Ricky yang banyak mengalah. Ah, kenapa aku malah memikirkan mereka.
Setelah Kayla siap, kami pun akhirnya berangkat ketempat tongkrongan Ricky. Dalam perjalanan menuju kesana, aku memperhatikan Kayla yang tersenyum merekah indah. Aku merasa heran dengan sikap Kayla hari ini. Ah sudahlah mungkin dia sedang bahagia. Pikirku. Akhirnya kami pun sampai ditempat tongkrongan Ricky. Ternyata tempat tongkrongannya adalah tempat seperti cafe tetapi terlihat luas seperti restoran. Disana terlihat banyak gerombolan pria. Tetapi ada juga beberapa orang perempuan yang kuduga mereka itu adalah salah satu pacar mereka. Kami pun akhirnya masuk kedalam. Kayla menghampiri Ricky. Kayla terlihat lebih bahagia lagi setelah bertemu Ricky. Senyumnya seolah sudah lama tidak berjumpa dengan sang kekasih. Kayla tersenyum sangat lebar, dia tertawa bahagia. Aku menyapa orang yang ada disana.
“Hai Clara, apa kabarmu ? Sudah lama ya kita tidak bertemu,” kata Ricky menyapaku.
“Hai, aku baik-baik saja. Iya sudah lama sekali kita tidak bertemu,” kataku.
“Apakah Kayla masih menceritakan masalah tentang kami kepadamu ?” tanya Ricky.
“Huhhh, iya. Dia selalu menceritakan kesehariannya padaku. Bahkan tentang masalahnya denganmu. Jadi kumohon jangan selalu bertengkar dengan Kayla, aku capek mendengar dia selalu mengeluh,hahaha,” kataku bercanda.
“Iya iya, tapi aku sangat bersyukur, Kayla mendapatkan sahabat sepertimu Clara. Terimakasih karena selama ini kau selalu ada bersamanya,” ucapnya.
“Ah sudahlah, lagipula bukan aku yang banyak membantu Kayla, tapi kebalikannya. Kayla lah yang sering membantuku,” kataku.
“Hayo kalian lagi ngapain ?” tiba-tiba Kayla datang.
“Ngobrol biasa lah sayang,” kata Ricky sambil merangkul Kayla.
“Oh, Ky cobalah carikan pria yang baik untuk Clara,” kata Kayla sambil menahan tawanya.
“Kayla, aku sudah sering bilang jangan lakukan itu!” ucapku kesal.
“Ok ok, hahaha maafkan aku Clara,” ucapnya dengan tertawa.
“Sudahlah, kalian ini seperti anak kecil saja,” Ricky menyudahi pertengkaran kami.
Kayla terlalu asyik berbicara dengan Ricky, sampai lupa keberadaanku. Tapi aku membiarkannya, karena aku melihat Kayla sangat bahagia. Beberapa jam sudah berlalu. Diluar sudah terlihat gelap. Belum ada tanda-tanda Kayla ingin pulang. Aku melihat Ricky menghampiriku.
“Clara, temanku akan mengantarmu pulang. Kayla akan pulang bersamaku. Aku dan Kayla akan pergi ke suatu tempat dulu. Tidak apa kan ?” ujar Ricky memohon.
“Ah ya, tidak apa-apa. Aku akan pulang sendiri saja,” ucapku menolak permintaan Ricky agar temannya mengantarku pulang.
“Kumohon, ini sudah malam. Tidak baik untuk perempuan pulang sendirian. Lagian temanku itu orangnya baik. Dia pemilik cafe ini kok. Ya kumohon, pulanglah bersamanya ? Kalau kau menolak aku tidak jadi pergi dengan Kayla, karena pasti Kayla akan lebih memilihmu,’ kata Ricky dengan penuh harap.
“Oh baiklah kalau begitu,” kataku.
“Ok, tunggu aku panggilkan temanku dulu,” kata Ricky bersemangat.
Setelah menunggu agak lama, akhirnya Ricky datang dengan seorang pria yang kuduga itu adalah orang yang akan mengantarku pulang. Dia berperawakan tinggi, hidung mancung, beralis tebal. Dia terlihat sangat tampan menurutku. Aku tak sadar bahwa aku memperhatikannya. Aku sudahi kegiatanku memperhatikannya. Karena kau yakin dia menyadari bahwa aku memperhatikannya. Malu. Itu yang kurasakan saat ini. Walaupun dia tak berbicara apa-apa, tapi aku sangat malu, karena memperhatikan orang yang baru saja aku temui. Ah sudahlah, ingin rasanya aku tenggelamkan mukaku ini.
“Ekhmm, Clara. Ini Abimanyu, temanku yang akan mengantarmu pulang,” ujar Ricky.
“Eh iya Ricky, Hai aku Clara,” kuperkenalkan namaku sambil menyodorkan tangan.
“Hai, gue Abimanyu,” sambil membalas jabatan tanganku.
“Ok bro, antarkan Clara sampai tujuan ya. Jangan sampai kenapa kenapa tuh anak. Kalau enggak, lo mati ditangan pacar gue,” kata Ricky bergurau.
“Iya elah, bacot lo,”
Kami pun akhirnya berjalan menuju parkiran. Tak ada yang mengeluarkan suara. Hanya keheningan yang ada diantara kami. Dia mengeluarkan motor ninjanya. Motor ninja berwarna hitam merah, tapi lebih didominasi oleh warna hitam. Tanpa sepatah katapun dia menyuruhku naik dengan gerakan kepalanya. Akupun akhirnya naik. Keheningan sepertinya belum terpecahkan. Hanya deru kendaraan yang yang terdengar bising ditelinga. Aku kaget saat dia tiba-tiba berbicara. Dia menanyakan jalan menuju rumahku. Dan hanya itulah percakapan antara kami berdua. Sebatas menanyakan alamat jalan rumah dan mejawab pertanyaan.
Motornya pun akhirnya sampai didepan rumah Kostku. Deru motornya berhenti.
“Terimakasih, kak Abimanyu. Maaf sudah merepotkanmu,” kataku sesopan mungkin.
“Sama-sama, bicaralah santai padaku. Panggil saja Abimanyu. Tak usah ada embel embel kak, ok ?” katanya.
“Oh baiklah,” kataku.
“Aku permisi,” pamit Abimanyu.
“Hati-hati,” balasku.

***
Aku merebahkan diriku dikasur. Sungguh terasa melelahkan hari ini. Padahal aku melakukan rutinitasku seperti biasanya. Hanya saja ditambah menemani Kayla. Hanya itu, tetapi tubuhku rasanya remuk. Mungkin aku sedang tidak enak badan. Badanku terasa lengket. Aku akhirnya pergi membersihkan badanku. Setelah selesai, akupun membereskan kamarku yang berantakan. Cukup melelahkan membereskan karamaku.
Badanku tiba-tiba menggigil hebat. Kepalaku pusing tak karuan. Dinding terlihat bergoyang. Aku mendengar ketukan pintu. Dengan sekuat tenaga aku berjalan sempoyongan kedepan pintu. Aku berhasil menggapai gagang pintu. Aku buka pintu itu. Dan ternyata yang kulihat adalah bu Rani. Mungkin bu Rani kaget melihat wajahku yang pucat.
“Clara sayang, kamu kenapa na ?” tanya bu Rani khawatir.
“Aku pusing bu, kepalaku sangat pusing,” ucapku lemah.
“Sayang, ayo kita ke dokter yu. Ibu akan siapkan mobil,” kata bu Rani akan meninggalkanku.
“Tidak usah bu, aku tidak apa-apa,” kataku sambil memegang tangan bu Rani.
“Tapi mukamu sangat pucat Clara. Ayo kita pergi ke dokter, jangan bantah ibu,” kata bu Rani tegas.
Kepalaku terasa semakin pusing. Terasa berat. Tiba-tiba saja menjadi gelap. Aku samar-samar mendengar bu Rani berteriak.
“Clara, bangun sayang. Clara,” bu Rani menepuk-nepuk pipiku.
“Adrian, cepat siapkan mobilnya. Clara pingsan,”
“......”

Komentar

Posting Komentar