Novelku Part 3


Kubuka mataku perlahan. Bau menyengat menyerang hidungku. Bau yang sangat ku benci. Ya. Etanol. Yang petama kali kulihat adalah ruangan bernuansa serba putih. Aku melihat kesekelilingku. Mataku tertuju pada bu Rani yang tertidur pulas disampingku. Aku menangis. Aku merasa bahagia. Aku seperti mendapatkan rasa kasih sayang seorang ibu, meskipun bu Rani bukan orang tua kandungku. Aku dijaganya dengan baik, seolah-olah aku ini anak kandungnya. Keluarga bu Rani pun tidak mempersalahkan jika bu Rani berbuat seperti itu kepadaku. Bahkan keluarganya bu Rani sangat menerimaku apabila aku mendatangi acara keluarga besarnya.
            “Eh, sayang udah bangun ? Loh kenapa, kok nangis ? Ada yang sakit ? Biar ibu panggilkan Dokter ya,” ucap bu Rani khawatir.
“Tidak usah bu, aku tidak apa-apa,” ucapku dengan senyuman.
“Lalu kenapa kamu menangis, huh ?” tanya bu Rani sendu.
“Aku hanya bahagia bu. Aku merasa dijaga sekali oleh ibu. Tapi aku juga merasa membebani ibu,” ucapku sambil menangis tersedu-sedu.
“Jangan merasa seperti itu sayang. Kamu adalah anak iu. Kamu putri ibu sayang,” bu Rani memelukku.
“Terimaksih bu, terimakasih,”
Kami berpelukan. Sangat lama. Aku mecurahkan semua isi hatiku kepada bu Rani. Bu Rani dengan senang hati mendengarkanku. Mendengarkan keluh kesahku selama ini. Tiba-tiba kak Adrian datang dengan Dokter. Dokter itu memeriksaku. Aku melihat kak Adrian tersenyum manis kepadaku.
“Nona Clara sudah stabil, tinggal menunggu benar-benar pulih saja. Baru nona Clara bisa pulang,” ucap Dokter.
“Baiklah, terimakasih banyak ya pak Dokter,” ucap kak Adrian sambil mengantar Dokter itu kepintu.
“Ini semua karena kecerobohan kamu Clara. Kan ibu sudah bilang, jaga selalu pola makan kamu. Janga sampai kamu telat makan. Liha akibatnya, sekarang kamu sakit,” kata bu Rani memarahiku.
“Terus bun, marahi saja Clara. Bandel sih dia. Tidak mendengarkan orang yang lebih tua darinya. Kena karma kan tuh jadinya,” ucap kak Adrian yang kuyakini sekarang dia hanya bercanda.
“Iya iya, ini semua salah aku. Aku memang tidak makan dengan teratur, maafkan aku,” ucapku.
“Itu semua KARMA, hahaha,” kata kak Adrian mengucapkan kata KARMA dengan sangat keras.
“Memangnya sinetron. Pake ada acara-acara karma segala. Ini tuh musibah kak,” ucapku membalas perkataannya.
“Shhhuttt, kok kalian malah pada ribut sih, ini di rumah sakit, jadi kalian jangan ribut terus dong,” bu Rani menengahi kami.
“Kamu juga Adrian. Clara kan sedang sakit. Bukannya dijagain, diurusin kek, malah berantem,” kata bu Rani memarahi kak Adrian.
“Yehh si bunda. Memangnya aku pembantunya. Gak mau ah bun,” kata kak Adrian menolak.
“Kamu nolak hmmm ? Bunda bakalan bilang ke ayah kamu supaya dia menarik mobil sama dompet kamu, mau gak ?” bu Rani malah mengancam kak Adrian.
“Yah bunda mah mainnya lapor-laporan ke ayah segala. Iya iya deh, aku bakalan jagain Clara, aku tahu kalau hari ini waktunya bunda arisan kan bareng sama temen-temen bunda....”
“Oh iya bunda lupa,” potong bu Rani.
“Clara, maaf ya ibu harus pergi arisan dulu. Kamu gak papa kan kalau disini sama Adrian ?” kata bu Rani.
“Iya bu, gak papa,” kataku.
“Jaga baik-baik Clara ya Adrian. Bunda pergi dulu,” kata bu Rani kepada kak Adrian.
“Kak, aku tidur ya. Ngantuk banget nih,” kataku kepada kak Adrian.
“Yaudah sih, tidur ya tinggal tidur. Matanya merem. Bilang segala,” kata kak Adrian.
“Yehhh, kak ?” kataku.
“Apaan ? Mau curhat apa mau tidur ? Katanya tadi ngantuk,” ucapnya lembut.
“Yaudah deh nanti aja curhatnya, aku tidur ya,”

***
Suara berisik membangunkanku. Amat sangat berisik. Saat ku buka mataku aku melihat Kayla. Kayla si cerewet dan menyebalkan, tapi baik hati. Ternyata bukan hanya Kayla yang datang. Tapi ada Ricky, kak Boby, dan kak Abimanyu. Kak abimanyu yang menyadari bahwa aku telah terbangun langung menghampiriku.
“Bagaimana keadaanmum ?” tanya kak Abimanyu.
“Ah,,,” aku gelagapan sendiri.
“Hmmm aku baik-baik saja kak,” ucapku.
“CLARA temanku yang paling cantik, kenapa bisa ada di rumah sakit sih ?” ucap Kayla berteriak.
Semua yang ada diruangan menutup telinganya kecuali aku. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku Kayla.
“Kay, jangan teriak-teriak. Ini rumah sakit,” kataku.
“Upss, iya sorry,” Kayla hanya tersenyum.
“Gimana keadaan lo ra, sehatkan ?” tanya kak Boby.
“Iya kak Bob, Clara yang cantik ini baik-baik saja. Kok kak Boby bisa tahu Clara dirawat sih ?” tanya ku penasaran.
“Bu Rani yang bilang, dan menyuruh para karyawan datang kesini. Mereka sudah pulang saat kau tidur,” jelas kak Boby.
“Memangnya aku tidur berapa jam sehingga mereka pulang cepat kak ?” tanyaku pada kak Adrian.
“Kamu tidur lima jam tau gak ?! Pules banget tidurnya,” kata kak Adrian.
“Gue balik ya Ric,” kata kak Abimanyu ke Ricky.
“Makasih udah datang kak,” ucapku.
Kak Abimanyu tidak menjawab apa-apa. Dia pergi keluar ruangan ini. Diikuti kak Boby juga yang harus pergi karena ada keperluan pribadi. Sekarang hanya ada aku, Kayla, Kak adrian, dan Ricky. Kayla membawa banyak sekali makanan. Dia memaksaku untuk memakannya. Kak Adrian dan Ricky hanya bisa tertawa melihat kelakuan Kayla kepadaku. Mereka pura-pura tidak mendengar ucapanku. Dengan terpaksa aku memakan makanan yang dibawa oleh Kayla. Meskipun tidak semua ku makan. Tapi setengahnya yang kumakan, aku yakin berat badanku sudah naik. Karena banyak sekali makanan yang aku makan akibat ulah Kayla.
***
Satu minggu kemudian, aku sudah bisa melakukan aktivitasku seperti biasanya. Aku kuliah dan bekerja. Tapi pekerjaanku lebih diringankan oleh bu Rani semenjak aku keluar dari rumah sakit. Semenjak itu pula, aku tidak melihat Kayla. Di kampus tidak ada. Di salon langganannya pun tidak ada. Aku mendatangi rumahnya, tapi tidak ada siapa-siapa selain satpam. Kata pak satpam, keluarga Kayla sedang ke Amerika. Setauku tidak ada kerabat Kayla yang tinggal di Amerika. Mungkin mereka sedang jalan-jalan pikirku.
Satu bulan berlalu terasa sangat cepat. Sampai saat ini pula aku tidak melihat Kayla. Komunikai pun tidak ada. Kayla belum pulang dari Amerika. Aku khawatir terjadi apa-apa kepada sahabat baikku. Akhirnya aku memutuskan menemui Ricky. Barangkali saja dia tahu sesuatu tentang Kayla. Aku meminta antar pada kak Adrian. Saat sudah sampai tempat tongkrongannya akupun menghampirinya.
“Ricky, apakah kamu tahu, sedang apa Kayla di Amerika ? Apakah dia menghubungimu ?” tanyaku kepada Ricky.
“Dia masih berkomunikasi denganku, tapi tidak terlalu sering. Katanya dia sedang menemani ibunya. Perusahaan ayahnya sedang ada masalah disana. Jadi dia menemani ibunya kesana, jadi kau jangan khawatir. Aku lupa memberitahukannya kepadamu. Karena aku tidak kuliah selama dua minggu ini,” jelas Ricky.
“Syukurlah kalau begitu, aku permisi dulu ya,” aku pamit.
Aku melihat kak Abimanyu sedang memperhatikanku. Tapi saat aku pergoki dia, dia langsung membuang mukanya dan langsung ngobrol dengan teman-temannya lagi. Entah kenapa aku merasa senang. Ah sudahlah. Aku membuat kak Adrian menunggu lama di parkiran. Setelah tahu Kayla dalam keadaan baik-baik saja aku pun merasa tenang.
                                                         ***
Aku bersama teman-temanku sedang berada dikantin kampus. Kami sedang makan. Melepas penat karena pelajaran kami hari ini yang melelahkan. Notif handphone ku berbunyi.
Bisa kita bertemu
Maaf, siapa ?
Abimanyu
Oh iya, boleh. Dimana ?
Di cafe deket sini
Ok, kapan ?
Jam 4 sore
Baiklah
Aku kaget melihat kak Abimanyu nge-LINE aku. Tapi aku penasaran, untuk apa dia ingin bertemu denganku. Yasudahlah kita lihat saja nanti, ada perlu apa kak Abimanyu sampai ingin menemuiku.
***
Diperjalanan menuju cafe aku sangat gugup. Entah kenapa. Tak biasanya orang seperti kak Abimanyu ingin menemuiku. Saat aku sudah sampai ternyata kak Abimanyu sudah menungguku. Aku segera menghampirinya.
“Hai kak, maaf aku telat,” kataku menyapanya.
“Tidak apa-apa. Silahkan mau pesan apa ?” tanya kak Abimanyu.
Aku segera memesan makanan dan minuman. Setelah itu hanya ada keheningan. Aku ingin sekali bertanya, tapi aku selalu mengurungkan niatku untuk bertanya. Aku tidak menyukai keheningan. Tapi mau bagaimana lagi.
“Maaf, aku membuatmu menemuiku. Mungkin kau sedang sibuk,” kata kak Abimanyu memecahkan keheningan diantara kami.
“Ahh tidak apa-apa, aku sedang tidak sibuk,” ucapku.
“Aku menyukaimu Clara,” ucap kak Abimanyu tiba-tiba.
“......”

Komentar

Posting Komentar